Rabu, 23 April 2014

Kartini dan Pesan Perjuangan Perempuan


(Persembahan Kepada Ibu Supriyati, Ibu Hartini dan Anisa Irmayanti) 
Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
“Janganlah kami coba dengan paksa mengubah adat kebiasaan negeri kami ini; bangsa kami yang masih seperti anak-anak itu, akan mendapat yang dikehendakinya, yang mengkilap bercemerlangan, kemerdekaan perempuan tak boleh tidak akan dating juga: pasti datang juga, hanyalah tiada dipercepat datangnya.”
(Surat kepada Nyonya Van Kol. 1 Agustus 1903, Habis Gelap Terbitlah Terang)
          Kartini adalah salah satu sosok perempuan Indonesia yang tangguh. Dilahirkan di Jepara, 21 April 1879 beliau mengalami kehidupan sebagai perempuan yang mengalami diskriminasi yang dilakukan oleh bangsanya sendiri, terutama bangsa laki-laki. Era Kartini abad 18 dan 19 adalah abad kegelapan bagi perempuan. Dimana pada saat itu perempuan Jawa cuma wajib mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Anak gadis itu dididik supaya menjadi budak orang laki-laki. Pengajaran dan kecerdasan dijauhkan daripadanya. Kebebasan tiada padanya.
            Walaupun Kartini adalah salah satu keturunan bangsawan yang terdidik. Bapaknya adalah salah satu dari empat bupati di seluruh pulau Jawa dan Madura yang pandai menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda, ialah bupati Jepara (RM. Adipati Ario Sosroningrat). Hal itu tidak bisa membuat diri Kartini sebagai anak perempuan terangkat prestige sosialnya. Karena masih kolotnya masyarakat Jawa pada saat itu. Walau sempat mengenyam pendidikan sekolah. Toh, akhirnya pada umur 12 tahun Kartini dipaksa untuk menikah.
            Kartini adalah orang yang suka belajar, dan dia masih merasa banyak pengetahuannya yang dapat dicari dan dipelajari. Suatu kejadian yang membuat Kartini sadar akan hak kaum perempuan yang sampai membekas dihati sanubarinya sehingga mengawali perjuangannya untuk memerdekakan kaum perempuan. Pada suatu ketika disekolah, diwaktu berhenti (istirahat), kawannya sedang asyik belajar bahasa Perancis, karena hendak belajar di negeri Belanda untuk melanjutkan pelajarannya di sekolah guru. Kawannya bertanya pada Kartini, hendak kemana dia setelah menamatkan sekolahnya. Kartini bingung untuk menjawab, hendak kemana saya setelah lulus.
            Setelah itu Kartini pulang kerumah dan ingin menanyakan kepada bapaknya. Kebetulan ada pamannya bertandang kerumahnya. Mendengar pertanyaan dari sang Kartini muda. Pamannya yang menjawab dengan spontan “apalagi, jika tidak menjadi Raden Ayu.”, Kartini girang sembari bingung apa maksud dari “Raden Ayu”. Karena Kartini orangnya suka belajar dan mengamati kondisi dilingkungan sekitarnya. Kartini baru sadar bahwa nasib dari seorang “Raden Ayu” tidak sesuai dengan kegirangannya. Maka setelah itu timbullah suatu semangat dalam hati sanubarinya tidak suka menjadi Raden Ayu, tidak suka nikah dengan orang yang belum dikenalnya.
            Nasib tak berpihak pada Kartini yang malang. Terbukti, setelah lulus Kartini tidak diperbolehkan untuk meneruskan pendidikannya ke negeri Belanda, demi menggapai cita-citanya menjadi seorang guru. Al-hasil Kartini dijodohkan dengan orang yang belum dikenalnya. Tetapi semangat Kartini tidak surut begitu saja, membaca buku menjadi nafsu baginya. Baru saja habis pekerjaannya, dengan segera dia pergi asyik membaca. Apa saja dibacanya mengerti atau tidak, tidak dipedulikannya, tidak menjadikannya putus asa dan berhenti ditengah jalan. Jika mengerti diulangi sekali lagi, jika belum juga, ditigakalikanya.
            Sampai pada tanggal 8 Agustus 1900 Kartini berkenalan dengan Mr. Abendanon yang berkunjung ke Jepara beserta istrinya. Sejak saat itu keluarga Abendanon yang menjadi pembimbing Kartini dalam usahanya meneruskan pendidikan dan menggapai cita-citanya menjadi guru. Lewat surat-surat yang dikirimkannya ke Nyonya Abendanon kemudian dibukukan oleh Balai Pustaka yang berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang adalah bukti nyata semangat Kartini untuk memperbaiki tatanan masyarakat yang mendiskriminasikan peran perempuan sebagai golongan yang lemah dan selalu patuh pada kaum laki-laki. Walaupun cita-citanya belum terealisasikan, karena meninggal dunia diusia yang muda usia 25 tahun, akibat dari melahirkan anak pertamanya. Setidaknya peranan yang dilakukan Kartini itu menjadi pesan perjuangan bagi perempuan masa kini dalam membela hak-hak kaum perempuan.
Kesetaraan Gender
            Diruang demokrasi yang terbuka lebar ini seharusnya kesetaraan gender, dimana persamaan hak dan kewajiban kaum perempuan dan laki-laki dalam konstruksi masyarakat menjadi prioritas utama dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan justru tindakan diskriminasi terhadap perempuan yang dipelihara. Alih-alih Negara sudah menjamin hak-hak kaum perempuan melalui regulasi yang telah ditetapkan. Toh, buktinya tindakan kekerasan terhadap perempuan masih ada disekitar kita.
            Padahal kalau kita melihat sejarah pergerakan nasional Indonesia, Sukarno presiden pertama Indonesia yang menganugerahi Kartini sebagai pahlawan nasional dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964 dan menetapkan hari lahir Kartini tanggal 22 April sebagai hari bersejarah. Menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum perempuan sejajar dengan kaum laki-laki. Bisa kita lihat tulisan-tulisannya tentang perempuan; Sarinah, yang menceritakan tentang perempuan yang mengasuh Sukarno waktu kecil dan bagaimana perjuangannya melawan adat-kebiasaan masyarakat setempat. Dan Wanita Bergerak, yang menceritakan tentang pemaparan Sukarno dalam mengisi kursus wanita progresif di kota Yogyakarta. Semua itu Sukarno dedikasikan untuk perempuan-perempuan Indonesia supaya dalam perjuangan melawan kolionialisme bersama-sama dengan kaum laki-laki.
            Musim politik (PILEG 2014) sudah berlalu, tinggal bagaimana kita menunggu hasilnya sembari menunggu pesta demokrasi yang lebih besar (PILPRES 2014), terlepas dari komunikasi politik yang dilakukan oleh elite-elite partai politik dalam mensukseskan PILPRES 2014. Mohon diperhatikan untuk mementingkan hak-hak kaum perempuan, entah itu dalam fungsinya sebagai pelayan rakyat dalam membuat keputusan-keputusan atau langsung terjun dengan masyarakat ketika menghadapi kasus yang mendera perempuan. Ingatlah, bahwa surga berada ditelapak kaki ibu. Demikian.

*Penulis adalah mahasiswa aktif UMS
FKIP Pendidikan Kewarganegaraan

Senin, 21 April 2014

Pengorbanan Politik



Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
            Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dirundung oleh berbagai macam bencana alam yang melanda hampir seluruh daerah di Indonesia. Mulai dari banjir bandang di Manado, banjir besar di Jakarta, Gunung Sinabung yang meletus di Sumatera Utara, dan banjir terbesar sepanjang sejarah di Pekalongan, serta cuaca ekstrem yang melanda di seluruh pelosok Nusantara. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa bumi kita sudah mengalami fase krisis ekologi yang besar. Lantas hal yang menyebabkan ini semua, siapa yang harus disalahkah? Ya, ulah-ulah manusia sendirilah yang menyebabkan ini semua. Tanpa belas kasihan mereka-mereka yang mempunyai kuasa lebih, dengan ditopang dengan kelebihan daya ekonomi yang tinggi (baca; kapitalis) menghancurkan tatanan biologis yang menyangga seluruh kehidupan manusia. Sistem ekonomi yang tak berkemanusiaan inilah berdampak besar pada seluruh elemen kehidupan manusia. Lagi-lagi manusia sendirilah yang harus menanggung akibatnya.
            Teringat dengan film Spongebob Squarepantsedisi Gunung Bikini Bottom Meletus, film anak-anak yang setiap pagi dan sore diputar distasiun televisi swasta. Membangkitkan imajinasi saya selaku manusia Indonesia, dalam melihat kondisi alam yang akhir-akhir ini melanda Indonesia. Dipertontonkan dalam film anak-anak itu, pada suatu hari Gunung Bikini Bottom meletus dengan sangat hebatnya, sampai seluruh warga Bikini Bottom sendiri pun kewalahan dalam menanggulangi bencana itu. Bahkan seorang walikota Bikini Bottom, disebutkan didalam film dengan panggilan Major, juga bingung dalam menenangkan warganya yang khawatir dengan keselamatannya masing-masing. Akhirnya dalam rapat besar yang diadakan oleh petinggi negara tersebut, datang seorang sang juru selamat yang mengatakan ada jalan untuk menghentikan gunung Bikini Bottom itu untuk tidak mengeluarkan lava panas, yaitu dengan harus adanya suatu pengorbanan yang besar. Disebutkan lagi mereka yang harus di korbankan itu adalah mereka yang menderita, dan Squidward lah sosok manusia congkak, sombong, suka pada kenyamanan yang harus di korbankan. Dengan alih-alih warga Bikini Bottom yang pernah mendengarkan alibi Squidward yang hidupnya sangat selalu menderita. Alhasil memang Squidward lah yang di korbankan, tetapi justru rumahnya yang menutupi kawah gunung tersebut dan akhirnya lava panas berhenti.
            Jika dikontekskan dengan bencana alam yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sangatlah tepat untuk mengakhiri segala penderitaan korban bencana alam itu, yaitu dengan adanya suatu pengorbanan. Bukan justru yang dilakukan adalah rasa syukur akan suatu bencana, dengan anugerah yang di berikan oleh Tuhan yang Maha Kuasa, dengan diterjemahkan oleh yang mempunyai kepentingan politik pragmatis dengan ditandai berbondong-bondongnya partai politik dalam memberikan bantuan layaknya sinterklas bukan cowboy; setelah memberikan bantuan atau hadiah di tinggal pergi, ketika kekuasaan sudah didapatkan justru meninggalkan rakyat, dan datang lagi pada saat musim politik datang (pemilu). Yang harapannya adalah partisipasi rakyat dalam memilih golongannya (partai) agar menang dalam pemilu, tetapi melupakan esensi partisipasi politik yang sebenar-benarnya dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera sesuai dengan khittah politik.
            Ya, pengorbananlah yang harus menjadi pembicaraan khusus oleh golongan elite-elite politik dalam menghadapi bencana alam. Pejabat publik yang ksatria adalah mereka yang peduli dan berani mengabdi secara total untuk masyarakat, tanpa harus mengedepankan tendensi yang bersifat milik golongannya atau dirinya sendiri bahkan. Bukannya mengalihkan rapat partai di daerah yang tidak terkena dampak bencana alam, dan bersifat eksklusif yang tidak boleh diliput oleh pihak luar (media), untuk merumuskan konstelasi politik kedepan, setelah partainya banyak dirundung oleh banyaknya permasalahan yang menjeratnya; kasus korupsi yang dilakukan oleh kader-kadernya. Pengorbanan politik yang sesungguhnya, dengan berlandaskan kepada rasa kemanusiaan yang lebih adalah suatu sikap yang bijak. Kita perlu belajar dari Squidward memang, sosok yang congkak dengan sikap yang ingin nyaman dan aman selalu (individualis), tetapi masih mempunyai rasa kebajikan sosial yang lebih untuk warga Bikini Bottom, yang akhirnya memang rumah, segala sesuatu yang hanya dimilikinya dengan segala harta dan benda yang ada didalamnya, rela ia korbankan dengan sikap yang bijak dan pemenang sejati. Patut kita tiru dan kita amalkan, terlebih bagi politikus-politikus maupun pejabat negara yang mengatasnamakan pejabat publik atau pelayan masyarakat.Mungkin begitu.

Mahasiswa dan Kesadaran Sejarah



Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)
(Ir. Sukarno)
            Hari ini adalah dampak dari masa lalu. Masa lalu menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami manusia dalam suatu kondisi dan kebutuhan tertentu. Peristiwa-peritiwa itu tercatat dalam suatu dokumen sejarah suatu bangsa. Sejarah menjadikan manusia dalam hidup berbangsa dan bernegara sesuai dengan cita-cita luhur Negara yang di rumuskan oleh The Founding Father Nation. Tak heran jika Sukarno pernah berkata “suatu Negara akan hancur dan runtuh, jika anak mudanya tidak menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa dan sejarah masa lalu bangsa”. Maka dari itu pentingnya membuka kembali lembaran-lembaran masa lalu bangsa Indonesia saat ini adalah untuk mengetahui penyebab kenapa Negara sampai detik ini tidak bisa memberikan kewajibannya kepada rakyatnya. Maka dari itu belajarlah dari sejarah.
            Bulan September terdapat peristiwa penting bangsa Indonesia yang menggemparkan dunia. Tepatnya pada tanggal 30 september 1965, hari dimana dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan. Hari dimana pancasila diperingati sebagai yang paling sakti tiap tahunnya. Hari dimana siapa yang kuat dia yang menang. Hari dimana tujuh para jenderal di bunuh dan disiksa di Lubang Buaya, Jakarta. Hari dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) menjalankan aksinya dalam sebuah kudeta dan ingin mengganti ideologi Negara dari Pancasila menjadi ideologi komunis. Tapi siapa yang duga kalau peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30 S/PKI) itu sampai hari ini masih dipersoalkan terkait keontetikan kebenaran sejarahnya.
            Bukan menjadi rahasia umum lagi dalam ilmu-ilmu sosial (humaniora) perdebatan yang berawal dari keganjilan dan ketidakpuasan dalam mencari kebenaran menjadi tolok ukur ilmu-ilmu sosial itu menjadi bagian ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi terciptanya ilmu pengetahuan yang rasional dan logis. Dan sejarah masuk dalam kategori itu, terlebih jika kita melihat kalau sejarah berisi tentang peristiwa masa lalu yang urgen. Kelengkapan data dan analisis yang tajam menjadi proses pencarian kebenaran berjalan dengan baik. Pentingnya anak muda mempelajari dan memahami sejarah, terutama mahasiswa yang disebut sebagai agent of change yang hidup dalam masyarakat ilmu (kampus) adalah terwujudnya kesadaran sejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
           
September dan Oktober yang Kelam
Peristiwa malam September dan dini hari Oktober 1965 yang kelam adalah peristiwa berdarah yang perlu kita selidiki lebih radikal (mengakar) lagi. Apakah memang benar-benar PKI yang melakukan coup de e’tat  untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Ataukah itu justru perseteruan internal dalam tubuh institusi pemerintah yang membidangi pertahanan dan keamanan guna pembuktian kekuatan masing-masing.
Dijelaskan dalam buku yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, karya John Roosa bahwa pada dini hari 1 1965, Menteri Panglima Angkatan Darat (Mengpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani dan lima orang staf umumnya diculik dari rumah-rumah mereka di Jakarta, dan dibawa dengan truk ke sebidang areal perkebunan di selatan kota. Para penculik membunuh Yani dan dua Jenderal lainnya pada saat penangkapan berlangsung. Tiba di areal beberapa saat kemudian pada pagi hari itu, mereka membunuh tiga jenderal lainnya dan melempar enam jasad mereka ke sebuah sumur mati. Seorang letnan, yang salah tangkap dari rumah jenderal ketujuh yang lolos dari penculikan, menemui nasib dilempar ke dasar sumur yang sama.
Pagi hari itu juga orang-orang dibalik peristiwa pembunuhan ini pun menduduki stasiun pusat Radio Republik Indonesia (RRI), dan melalui udara menyatakan diri sebagai anggota pasukan yang setia kepada presiden Sukarno. Adapun tujuan aksi yang mereka umumkan ialah melindungi Presiden dari komplotan jenderal kanan yang akan melancarkan kudeta. Mereka menyebut nama pemimpin mereka, Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang bertanggung jawab mengawal presiden, dan menamai Gerakan 30 September (selanjtnya disebut sebagai G-30-S). Dalam sebuah unjuk kekuatan, ratusan prajurit pendukung G-30-S menduduki lapangan Merdeka (sekarang Monas) di Pusat Kota.
Kesulitan memahami G-30-S antara lain karena gerakan tersebut sudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia mengetahui keberadaannya. Gerakan 30 September tumbang secepat kemunculannya. Kendati bernapas pendek, G-30-S mempunyai dampak sejarah yang penting. Ia menandai awal berakhirnya masa kepresidenan Sukarno, sekaligus bermulanya masa kekuasaan Suharto. Suharto menggunakan G-30-S sebagai dalih untuk merongrong legitimasi Sukarno, sambil melambungkan dirinya ke kepresidenan. Pengambilalihan kekuasaan negara oleh Suharto secara bertahap, yang dapat disebut sebagai kudeta merangkak. Kedua belah pihak tidak berani menunjukkan ketidaksetiaan terhadap Presiden.
Jika bagi Presiden Sukarno aksi G-30-S itu sendiri disebutnya sebagai “riak kecil ditengah samudra besar Revolusi (nasional Indonesia),” sebuah peristiwa kecil yang dapat diselesaikan dengan tenang tanpa menimbulkan guncangan besar terhadap struktur kekuasaan, sedangkan bagi Suharto peristiwa itu merupakan tsunami pengkhianatan dan kejahatan, yang menyingkapkan adanya kesalahan yang sangat besar pada pemerintahan Sukarno. Suharto menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi G-30-S, dan selanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orang-orang yang terkait dengan partai itu. Gerakan 30 September, sebagai titik berangkat rangkaian kejadian berkait kelindan yang bermuara pada pembunuhan massal dan tiga puluh dua tahun kediktatoran, merupakan salah satu di antara kejadian-kejadian penting dalam sejarah Indonesia.

Mahasiswa Mencari Kebenaran Sejarah
            Soe Hok Gie dalam catatan pribadinya yang berjudul Catatan Seorang Demonstran bergumam “sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhiantan, sejarah tidak akan lahir?”. Tiap tahunnya kita sebagai rakyat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, tanpa kita tahu apa penyebab kesaktian pancasila diperingati itu sebenarnya. Kebenaran serta pelurusan sejarah memang sangat di perlukan untuk saat ini. Apakah sejarah akan selamanya seperti produk-produk rezim diktator Suharto. Dimana propaganda dan teror sudah merasuk dalam kerangka berfikir masyarakat Indonesia. Apakah kita sebagai masyarakat Indonesia berusaha mencari titik kebenaran dalam sejarah masa lalu yang kelam itu.
            Ya, sebagai mahasiswa Indonesia yang bersumpah bahwa “kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung keadilan, dan kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan”. Menjadi landasan mahasiswa untuk membuka kesadaran sejarah yang sebenar-benarnya. Lewat mimbar-mimbar bebas, diskusi publik, bedah film, bedah buku, bedah tokoh, seminar-seminar, serta workshop-workshop targetan menuju kesadaran sejarah akan bisa kita wujudkan.
*Penulis adalah mahasiswa aktif UMS
Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN)
Dan aktif bergiat di Rumah Pena Merah

Bagaimana Seharusnya Mahasiswa Berfikir?


Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
            Persoalan bangsa kita hari ini tidak menentu. Momentum yang bisa dijadikan sebagai alat pemersatu persatuan dan kesatuan bangsa, justru jauh dari persatuan dan kesatuan itu sendiri. Konflik yang dilestarikan dan ketidakpercayaan terhadap masing-masing individu warga negara menjadi salah satu faktor penyebab kenapa persoalan bangsa sulit untuk dipecahkan. Selain daripada itu cara berfikir manusia Indonesia yang sulit untuk dinalar dan dirasionalkan, menjadi faktor penyebab kenapa kehidupan berbangsa dan bernegara ini stagnan, tanpa perubahan-tanpa kemajuan. Bisa kita lihat fase perkembangan manusia Indonesia sendiri, tidak bisa terlepas dari unsur-unsur masyarakat atau akar kebudayaan masyarakat Indonesia. Perihal kemajuan dan keseriusan membenahipun akhirnya jauh dari harapan. Pembenahan pola fikir adalah yang harus dijadikan sebagai agenda pra-perubahan bangsa.
            Dan yang harus memulai adalah golongan terdidik, adalah mahasiswa yang harus menjadi garda depan perubahan pola fikir manusia Indonesia. Kampus mempunyai filsafat pergerakannya tersendiri. Tak salah jika dalam konstelasi yang terjadi di negeri ini. Kampus menjadi sorotan utama dalam penyelesaian persolan bangsa. Bisa kita lihat pada saat runtuhnya Sukarno dari rezim orde lama; pembacaan keruntuhan rezim sudah dilakukan oleh golongan terdidik dari kampus jauh-jauh hari sebelum militer dan pihak oposisi bergerak pada era -66 an, runtuhnya rezim orde baru juga tidak jauh seperti rezim sebelumnya; mahasiswa bergabung dari segala lini dengan analisa yang berbeda tetapi tetap satu kesatuan dalam gerakan mampu meruntuhkan dengan cara ekstra-parlementer rezim korup tersebut.
Lantas apa yang kita tunggu saat ini, rezim sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dipertahankan, pergantian kepemimpinan nasionalpun juga hanya rutinitas yang kosong, tanpa esensifitas berdemokrasi yang baik, bukannya menyelesaikan persoalan-persoalan yang sudah menumpuk banyak, melainkan menambah persoalan yang baru adalah hal yang wajar dan paling realistis dilakukan oleh pemerintahan baru. Biaya hutang negara yang semakin bertambah, jumlah kemiskinan yang bertambah membludak, dan budaya korupsi yang menjadi kewajiban bagia setiap pejabat. Berikut itu semua adalah akibat dari pola fikir pemimpin negara yang irrasional. Sepatutnya kita tidak mempercayai negara, alih-alih negara mampu untuk memberikan kehidupan ini sejahtera melalui landasan konstitusionil, penyengsaraan justru merajelala. Ironis.
            Kalau tidak kita mulai dari awal pembentukan pemimpin negara dimasa depan. Mustahil kita mempunyai pemimpin yang bisa diandalkan oleh massa rakyat. Penyusahan-penyusahan justru menjadi bertambah akut. Berawal dari mahasiswa sebagai golongan terdidik yang dipersiapkan untuk negeri ini adalah jawabannya. Kampus sebagai ladangnya ideologi. Kampus sebagai wadah pertukaran ide-ide dan gagasan berfikir harusnya mampu mengembangkan pola berfikir mahasiswa yang sistematis-konstruktif untuk mewujudkan perubahan. Perlu kita selidiki memang bagaimana seharusnya pola berfikir mahasiswa dengan menggunakan pendekatan tipe ideal. Agar sekali lagi kita dalam menetukan kriteria generasi pemimpin negeri ini tidak salah kaprah. Tepat dan sesuai dalam memandang kondisi dan kebutuhan kekinian adalah harapan kita semua yang mendambakan pemimpin negara yang memasyarakat dan sanggup menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.
            Karakteristik berfikir yang falsafati bagi pemimpin patut kita jadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kriteria pemimpin yang baik. Terlebih menurut Jujun S. Suriasumantri, seorang pembelajar filsafat ilmu di Indonesia, menyebutkan bahwa seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak dibumi sedang tengadah kebintang-bintang. Dia ingin menetahui hakikat dirinya dalam kemestaan galaksi. Atau seorang, yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
            Selanjutnya dalam hal pemimpin yang berfikir falsafati harus mempunyai beberapa karakteristik. Karakteristik berfikir falsafati yang pertama yaitu sifat menyeluruh. Maksud dari menyeluruh itu sendiri konteks kepemimpinan adalah seorang pemimpin tidak puas lagi mengenal masyarakat yang dipimpinnya hanya dari segi pandang masyarakat yang homogen. Dia ingin melihat hakikat masyarakat yang dipimpinnya dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih luas. Dia ingin tahu masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat itu sendiri, kaitan masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya yang berbeda latar belakang agama, ras, suku, bahasa dan sub-sub budaya lainnya. Dia ingin yakin apakah perbedaan itu semua akan membawa pada kebahagiaan sosial atau tidak.
            Selain daripada itu karakteristik berfikir falsafati yang paling penting juga adalah sifat mendasar. Kontesks sifat mendasar dalam hal kepemimpinan adalah mereka-mereka pemimpin itu tidak percaya begitu saja oleh satu perspektif penyelesaian masalah, melainkan penuh pertimbangan dan banyak analisis. Rasa skeptis itu muncul dari dalam pemimpin jika apa yang ia rasakan sebagai pemimpin serasa mengganjal dalam prosesnya. Pembacaan ulang dan pengamatan secara lebih rinci untuk menemukan titik persoalan yang ada, maka secara tidak langsung dalam penyelesaian pun serasa mudah dan penuh pertimbangan.
            Ciri yang ketiga dari karakteristik berfikir falsafati adalah sifat spekulatif. Maksud dari spekulatif disini adalah bahwa seseorang harus mampu membaca dan menganalisis dengan tajam dan kritis, serta merumuskan pertimbangan-pertimbangan yang matang dalam pengambilan keputusan, agar tidak merugikan atau menguntungkan salah satu pihak. Spekulatif berbeda dengan opportunitas. Pemimpin maupun calon pemimpin yang dibutuhkan oleh massa rakyat adalah yang mempunyai karakteristik yang telah disebutkan diatas.
            Dan mahasiswa sebagai tonggak kepemimpinan masa depan, penerus pemimpin-pemimpin political action bukan political inaction. Wajib memiliki karakteristik berfikir yang falsafati. Supaya dalam melakukan aksi-aksinya nanti sebagai pemimpin tidak salah kaprah. Kenapa para pemimpin-pemimpin kita hari salah kaprah dalam hal memimpin, karena dari awalnya saja sudah keliru dalam berfikir, terlebih tidak dibarengi dengan proses berfikir yang melakukan penalaran dengan hukum logika yang tepat. Jangan salah dalam pengambilan keputusan dan pemutusan kebijakan, rakyat menjadi tumbalnya sebagai hasil cara berfikir yang kurang tepat.
            Sebagai pencetus, pendukung dan penerap ideologi. Mahasiswa selayaknya mempunyai karakteristik yang semacam itu, ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya adalah modal tepat bagi proses pengembangan pemikiran yang falsafati, dampaknya adalah pemikiran-pemikiran yang kritis, rasional dan dapat dipertanggung jawabkan adalah hal yang paling utama. Terlebih kalau kita melihat sendiri bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Mempunyai akal dan pikiran serta hati. Apakah masih kurang untuk memikirkan bagaimana memanusiakan manusia. Saya pikir tidak. Terlebih mahasiswa yang berkecimpung didunia pendidikan, seharusnya jauh berada didepan untuk memimpin perubahan. Diawali dengan merumuskan kerangka berfikir mahasiswa saya yakin perubahan akan berjalan. Mungkin begitu.
*penulis adalah mahasiswa aktif UMS
Jurusan FKIP Pendidikan Kewargenagaraan

Kepemimpinan Mahasiswa



Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
            Siapa yang tidak tahu kalau zaman sekarang adalah zaman edan.Ya, pemimpin Negara yang korup, harga-harga yang melonjak tinggi, kebijakan publik yang tidak pro-rakyat, para wakil rakyat yang plesiran keluar negeri dengan memakai uang rakyat, serta kehidupan pejabat publik yang serba glamour. Dari hal yang paling kecil sampai yang besar tentang pimpinan Negara menjadi tontonan kita akhir-akhir ini.Harapan untuk dipimpin oleh pemimpin yang bertanggungjawab, arif dan bijaksana pun seolah-seolah jauh dari impian kita sebagai massa rakyat yang hidup terlilit hutang dan serba susah dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara ini.
            Rasa pesimispun muncul juga kala agenda demokrasi akan digelar dalam jangka waktu 27 hari ini. Bisa kita lihat spanduk-spanduk meneror mata kita dengan gambar caleg yang narsis, belum lagi gambar partai politik yang serba binatang dan tumbuhan juga hadir dibalik pohon yang berada dipinggir jalan. Gebyar pemilu 2014 juga menghadirkan pula sesosok paranormal yang hadir ditengah hiruk-pikuk pemilu. Entah apa yang menyebabkan pelaku pemilu tersebut begitu semangat dalam menyambut tahun politik ini. Padahal rakyat belum tentu juga memilih haknya, walau hak memilih sudah menjadi kepentingannya.
            Semua serba latah. Untung rakyat ini sudah cerdas dalam melihat, terutama dalam melihat fenomena politik nasional yang terjadi saat ini. Segala penipuan yang berkedok perbaikan nasib rakyat, mereka tangguhkan dengan menutup telinga sembari tetap mengais rezeki demi isteri dan anak dirumah. Jangankan melihat langsung para pemimpin-pemimpin yang bertebaran dijalan-jalan, pasar, lapangan, dan tempat publik lainnya. Tidak langsungpun lewat media massa maupun media elektronik mereka mengalihkan pandangannya kesinetron atau acara-acara yang menarik. Dan untuk anak-anak muda yang pada tahun ini sebagai sasaran panitia pemilihan sebagai pemilih cerdas.Lebih baik nongkrong sembari ngopi dan merokok untuk memuaskan dahaga jiwa muda.
            Herannya jika kita melihat sikap rakyat yang apatis pada tahun politik ini serta sikap calon pemimpin yang serba latah. Masih ada juga sepercik semangat berdemokrasi kala sosok Jokowi hadir ditengah-tengah masyarakat Jakarta yang banyak masalahitu. Kampanye dukungan terhadap Jokowi menjadi RI 1 pun semarak digelar oleh simpatisan Jokowi, dari yang berpartai sampai tak berpartaipun ikut juga mensukseskan. Siapa dalang dibalikitu. Apakah memang rakyat kita sudah muak dengan pemimpin yang lawas, kemudian hadirnya Jokowi, mereka klaim sebagai juru selamat ibarat sang ratu adil. Seperti dulu Sukarno diklaim sebagai juru selamat pada zaman pergerakan nasional yang dirundung kenestapaan penjajahan.
            Saya piker sama saja untuk konteks Jokowi. Walaupun menggunakan konsep blusukan ataumanajemen lapangan sekalipun. Hal serupa pasti akan terjadi. Krisis moneter, finansial, ekonomi, pendidikan, serta merembet pada budaya politik rakyat yang apatis akan terulang kembali. Karena bisa kita lihat pemimpin kita hari ini tidak terdidik untuk sebagai pemimpin Negara, dimana bisa kita lihat dulu zaman pergerakan nasional, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka sebelum menjadi negarawan. Beliau-beliau pada masa mudanya adalah pimpinan-pimpinan pergerakan dari suatu organisasi pergerakan nasional. Kita tahu Sukarno adalah pimpinan gerakan pada PNI, Moh.Hatta PNI Baru bersama Sutan Sjahrir, serta kita tahu bahwa Tan Malaka pernah menjabat sebagai pimpinan gerakan di PKI serta berbareng bergerak bersama Semaoen dan Alimin.
            Tetapi kita lihat kapasitas calon pemimpin negera ini yang sebentar lagi akan kita pilih. Teruntuk mereka yang mau memilih. Semua berlatar belakang tak jauh dari dunia meja dan bangku yang membangun paradigmnya menjadi birokratik-teknokratik. Terlebih kalau kita melihat partai-partai nasional hari ini kurang imajinasi dan tidak mau berseteru. Jangankan untuk mendidik orang-orangnya menjadi pimpinan pergerakan yang handal. Kemudian berseteru denganpartai yang lain dengan program yang berbeda. Perseteruan didalam tubuh internalpun tak kunjung-kunjung usai, ironis.

            Kepemimpinan yang berbasis pada semangat muda sangatlah penting. Memang Jokowi adalah calon presiden yang paling muda diantara calon presiden yang lain. Tetapi hal itu belum bisa menjamin mampu membuat gebrakan baru dalam merumuskan kearah tujuan yang visioner. Kepemimpinan mahasiswa bisa menjadi jawaban dari segala permasalahan kepemimpinan di negeri ini. Bukan militer, bukan intelektual tukang, bukan peculas birokratik yang menipu, melainkan intelektual yang tercerahkan dan itu adalah mahasiswa. Kepemimpinan mahasiswa perlu untuk diperhitungkan dalam konstelasi kepemimpinan yang terjadi.
            Selain daripada itu hal yang penting untuk diperhatikan adalah membuat kumpulan anak-anak muda yang terkumpul dalam wadah kampus ini berbasis kesadaran sosial tingkat tinggi. Kesadaran tersebut terbentuk jika proses pendidikan perkaderan mahasiswa menjadi garapan yang segera dijalankan. Ketika ruang-ruang kelas tidak mampu memberikan rasa segar dalam kehausan jiwa pemuda yang melawan. Untuk saat ini tepat bagi mahasiswa-mahasiswa yang resah mencari alternatif lain demi menunjang pendidikan pergerakannya, dan organisasi mahasiswa baik itu organisasi yang lingkup intra maupun ekstra adalah pilihan bagi generasi muda terdidik ini untuk mengembangkan potensinya. Maka kepemimpinan ideal yang dicita-citakan pun menjadi yang diharapkan. Saatnya buat mahasiswa untuk memimpin negeri ini. Mungkin begitu.

*penulis adalah mahasiswa aktif UMS
FKIP Pendidikan Kewarganegaraan