Jumat, 19 Desember 2014

Aku Mahasiswa Jilid 1



Mahasiswa dan Fotokopi
Oleh: Meri Santika Aprimanika*
            Mahasiswa tidak jauh dari istilah fotokopi. Mahasiswa dan fotokopi memiliki kaitan yang sangat erat, dan saling berhubungan. Dimana ada tempat fotokopi disitu pasti ada mahasiswa. Dan dimana ada universitas atau kampus, disekelilingnya pasti banyak sekali agen-agen fotokopi dengan berbagai label.
            Fotokopi adalah suatu hal yang sangat melekat terhadap diri mahasiswa, karena dimana mahasiswa mendapat tugas kuliah di situ akan selalu ada dan dapat dipastikan adanya lembaran fotokopi tugas-tugas tersebut. Entah tugas individu maupun tugas kelompok seperti di fakultasku sendiri.
            Setiap mendapat tugas dari dosen baik individu maupun kelompok, mahasiswa di haruskan untuk menggandakan hasil tugas itu sebanyak jumlah mahasiswa yang terdapat didalam kelas itu. Apalagi tugas untuk dipresentasikan; fotokopi adalah agenda wajib bagi mahasiswa.
            Tidak hanya ketika mahasiswa mendapat tugas saja, fotokopi adalah kegiatan wajib yang biasa dilakukan mahasiswa yang sering tidak mengikuti mata kuliah sebagai persiapan untuk ujian. Atau ketika mahasiswa merasa malas untuk mencatat materi mata kuliah tertentu dan memilih jalan pintas yaitu dengan fotokopi catatan teman lainnya.
            Bagi mahasiswa fotokopi materi mata kuliah dianggap lebih efisien dan sudah menjadi kebiasaan mereka dibanding dengan harus menulis catatan sendiri di buku. Apalagi biaya fotokopi tidak terlalu membebani mahasiswa, bahkan terbilang murah dan tidak terlalu mempengaruhi pengeluaran biaya (uang saku) mahasiswa.
            Jika sekedar selembar-dua lembar kertas. Tarif yang dibebankan berkisar Rp 250,00/lembar kertas fotokopi tidak berwarna. Dan hanya menambah sedikit koin rupiah untuk fotokopi berwarna.
            Jadi menurut saya pribadi, fotokopi bagi mahasiswa adalah sebuah kebutuhan sehari-hari untuk menghemat waktu dan beban mahasiswa. Bayangkan jika seorang mahasiswa mendapat tugas yang begitu banyaknya dan harus dipresentasikan kepada teman-teman mahasiswa lainnya dikelas. Sedangkan materi tersebut harus mampu dipahami oleh setiap mahasiswa lainnya.
            Dengan hanya menggandakan materi dengan cara fotokopi tersebut, terlebih dengan biaya yang sangat murah, akan mengurangi beban mahasiswa ketimbang mereka harus menyalin lagi materi tersebut sebanyak jumlah mahasiswa dalam kelas.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1


Mahasiswa dan Kantin
Oleh: Rr. Anisa Putri Ikhsani*
            Yang menjadi pertanyaan penting bagi mahasiswa pada zaman sekarang adalah apakah mahasiswa lebih sering mendatangi kantin ataukah perpustakaan? Nah, disini saya akan mengangkat dari kebiasaan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Informatika (FKI) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
            Menurut pengamatan dan pandangan saya sendiri kebanyakan di FKI lebih banyak berminat nongkrong di kantin daripada di perpustakaan. Setiap ada jam kuliah, berangkat ke kampus yang akan dituju pertama bukan kelas tetapi kantin. Setiap mata kuliah sudah selesai yang akan banyak dituju adalah kantin. Mengapa demikian?
            Sedangkan perpustakaan, mahasiswa yang berkunjung tidak lebih banyak daripada kantin. Apakah karena minat baca mahasiswa itu kurang? Ya, itu kembali pada pola pikir dan diri mahasiswa itu sendiri.
            Ya, tapi memang tidak ada salahnya pergi ke kantin untuk mengisi perut yang keroncongan. Tidak ada yang melarang juga dan tidak haram juga. Hanya untuk sekedar nongkrong sama teman-teman, berbincang-bincang. Tetapi kenapa mahasiswa dominannya akan kebanyakannya ke kantin dan ke perpustakaan jika hanya ada tugas saja, walaupun tidak bagi semua mahasiswa.
            Memang, kantin tempat yang menyenangkan, karena banyak makanan. Berbeanding terbalik dengan perpustakaan yang hanya terdapat rak-rak yang berisi penuh dengan buku-buku yang begitu tebal-tebal yang tidak dapat dimakan. Ya, hanya kita sendiri yang mengetahuinya.
            Tetapi lebih baiknya seimbang antara kedua-duanya. Ke kantin berangkat, ke perpustakaan juga berangkat. Tapi ke perpustakaannya lebih banyak daripada ke kantin. Karena kita juga mengetahui di kantin FKI itu harganya lebih mahal daripada kita membeli di warung makanan luar kampus, kantin mengambil banyak keuntungan dari mahasiswa, tetap juga masih banyak yang membeli, makanya harganya tidak di turunin.
*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1
Mahasiswa dan Kos
Oleh: Luqman Ilham Prihadi*
            Mahasiswa luar kota yang kuliah di salah satu kota yang ia hijrahi pasti tidak luput dari kos. Karena mahasiswa pasti akan kos jika itu mereka kuliah di luar kota. Teman saya satu kampus dan satu kelas di Ilmu Komunikasi UMS yang bernama Dodik Arif Esa Nugroho yang berasal dari Ngawi, yang kuliah di UMS memang di Solo ini dia kos.
Atau teman saya atau yang lebih dikenal dengan pimpinanku di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yaitu Akmam Yuniar yang berasal dari Pemalang yang juga kos di belakang Relasi (pusat perbelanjaan). Atau Reza Ulva Tamimi yang berasal dari Purwodadi juga kos bersama teman-temannya.
            Mahasiswa luar kota pasti tidak luput dengan kos, atau kalau tidak ikut bersama saudaranya. Sungguh sangat kasihan mahasiswa yang bertempat tinggal di kos. Apabila sudah memasuki tanggal tua pasti mereka akan kebingungan karena uang mereka menipis bahkan habis sama sekali dan mereka pasti tidak dapat membeli makanan.
Berbeda dengan mahasiswa yang sering pulang ke rumah atau biasa disebut anak rumahan, makan mereka terjamin, uang mereka juga kalau habis bisa minta lagi dan langsung dapat uang.
            Dalam kos juga mahasiswa bebas mengkespresikan apapun yang ada dalam otak mereka, entah itu mau melukis kamar, atau berbuat sesuatu di kos, berbuat sesuatu disini dalam arti hal yang positif, misalkan merokok, makan, setrika, belajar dll.
Orang yang mampu untuk membayar kos sendiri pastinya dia adalah mahasiswa yang mempunyai penghasilan sendiri, ataupun dia rajin menabung.
Banyak para mahasiswa khususnya mahasiswa UMS yang notabene dari luar kota pasti akan kos dan membiayai kehidupan dan penghidupannya sendiri. Karena hal tersebut menjadi budaya turun temurun yang sudah ada pada zaman dulu waktu perkuliahan sudah ada, begitulah sedikit gambaran tentang mahasiswa dan kos.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1
Mahasiswa dan Indomaret
Oleh: Adya Rosyada Yonas*
            Sebagai seorang mahasiswa yang berasal dari luar kota, tinggal di daerah perantauan adalah suatu tantangan tersendiri. Sebagai seorang mahasiswa, kita dituntut untuk dapat memanajemen semua hal sendiri. Salah satunya adalah masalah keuangan.
            Setiap mahasiswa memiliki latar belakang keuangan yang berbeda. Ada yang berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah dan kelas ekonomi bawah. Saya pribadi berasal dari kalangan biasa saja.
            Yang berarti harus dapat memanajemen keuangan sebaik mungkin. Salah satunya dengan cara berbelanja di tempat yang terjangkau. Salah satunya adalah di Indomaret. Menurut saya, sebenarnya berbelanja di Indomaret itu lumayan mahal dibandingkan minimarket kecil lainnya.
            Tapi itu sebenarnya tergantung sepintar-pintarnya kita memilih barang yang akan dipilih. Memang rata-rata yang dijual di Indomaret mahal. Namun tak jarang juga Indomaret mengadakan promo-promo barang murah.
            Disitulah kita seharusnya dapat dengan cermat membuat strategi berbelanja. Ketika ada promo barang murah (misal; beli 2 gratis 1). Kita sebagai mahasiswa alangkah lebih baiknya bila membeli.
            Namun perlu digaris bawahi bahwa barang tersebut adalah barang yang kita butuhkan. Jika barang tersebut dinilai kurang penting sebaiknya kita tidak membelinya. Dengan cara tersebut mungkin kita dapat lebih menghemat biaya pengeluaran kita.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1

Mahasiswa dan Alfamart
Oleh: Nabila Ikrima*
            Mahasiswa artinya adalah siswa yang maha. Maha itu artinya tinggi. Jadi mahasiswa menurut saya adalah siswa yang berderajat tinggi. Yang mempunyai nilai lebih tinggi. Istilah mahasiswa hanya terdapat di Indonesia. Karena di luar negeri semua tingkatan orang yang menuntut ilmu disebut ‘student’. Jadi seharusnya mahasiswa punya nilai yang lebih daripada murid yang belajar di tingkat universitas di luar negeri.
       Banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa. terlepas dari kewajibannya selain belajar, mahasiswa juga melakukan kegiatan lain seperti berolahraga, bermain game dan belanja. Disini kita mengangkat wacana tentang mahasiswa dan alfamart. Maka disini kita menarik hubungan antara keduanya. Salah satu kebutuhan mahasiswa yaitu berbelanja.
            Karena mahasiswa tidak akan terlepas dari kebutuhan membeli sesuatu. Dan salah satu tempat untuk berbelanja yaitu alfamart. Di alfamart mahasiswa bisa mendapatkan apa-apa saja yang dibutuhkannya. Seperti alat mandi, alat tulis dan makanan. Adanya alfamart menjadi suatu hal yang sangat menguntungkan bagi mahasiswa. Karena alfamart sudah ada dimana-mana, jadi mahasiswa menjadi lebih mudah untuk menjangkaunya.
       Menurut pengamatan saya, alfamart yang berlokasi di dekat mahasiswa akan mempunyai konsumen yang lebih banyak mengingat jumlah mahasiswa yang tidak sediki. Dan hal itu yang sangatlah menguntungkan bagi alfamart. Alfamart memang sangat menguntungkan bagi mahasiswa. Tetapi disisi lain ketika kita melihat dari harga-harga barang yang dijual di alfamart dibanding dengan toko biasa. Harga di alfamart relatif lebih mahal.
       Tapi terkadang mahasiswa tidak terlalu peduli dengan hal itu. Terkadang justru hanya memikirkan tempat belanja yang disana dia bisa mendapatkan yang ia mau. Salah satunya alfamart. Tetapi kalau dilihat dari sisi tingkat harga yang terlalu mahal. Alangkah baik apabila mahasiswa tidak selalu bergantung dengan alfamart. Karena dengan memadukan berbelanja antara di alfamart dan toko biasa. Itu akan lebih menghemat biaya mahasiswa. Selain itu juga alfamart sebenarnya adalah pasar monopoli.
            Menurut saya karena setelah alfamart menyebar dimana-mana, toko-toko biasa yang ada dimana-mana mulai tidak dilirik oleh pembeli dan akhirnya mulai gulung tikar satu per satu. Maka adanya alfamart, menurut saya itu salah satu yang membuat peluang keuntungan penjual toko biasa menjadi lebih sedikit.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1      


Mahasiswa dan Cinta
Oleh: Dodik Arif Esa N*
            Mahasiswa dan cinta dalam dunia perkuliahan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Karena di masa-masa inilah terkadang cinta yang sejati bisa ditemukan. Tidak bisa dipungkiri setiap mahasiswa pasti pernah merasakan cinta. Kehidupan mahasiswa yang penuh realita ataupun drama menjadikan mahasiswa sebagai tempat bernaungnya cinta-cinta yang ada. Banyaknya kegiatan mahasiswa yang melibatkan perasaan dan emosional mengakibatkan dirinya untuk mencari-cari tempat beristirahat, tempat mencurahkan perasaan, tempat bersandar. Dan cinta itulah yang diinginkan untuk mendudukinya.
            Banyak kasus dan kejadian tentang mahasiswa dan cinta yang senantiasa menghiasi kehidupan kampus. Setiap orang pasti pernah merasakan cinta ketika menjadi mahasiswa, dan terkadang mahasiswa melakukan banyak cara untuk menemukan cinta di kala menjadi mahasiswa. cinta dikalangan mahasiswa terkadang membuat gila. Bagaimana tidak? Karena kehidupan mahasiswa yang bebas ini membuat mahasiswa dan cinta melakukan hal yang gila.
            Cinta bisa menjadi semangat dorongan, kemauan, motivasi untuk mejadi lebih baik bagi mahasiswa. Namun terkadang cinta juga bisa menjadi racun atau pil pahit karena cinta yang gagal atau yang kandas bisa menjadi mahasiswa melakukan hal bodoh, kurang semangatnya diri bisa dikatakan hal atau buruknya cinta. Karena mahasiswa juga remaja yang sebagian tidak dapat mengontrol cinta. Memang sangat indah bila membicarakan cinta, cinta adalah sesuatu yang sangat ambisius bagi mahasiswa. Jika mahasiswa tidak bisa merasakan cinta itulah mahasiswa yang saya pikir merugi.
            Dewasanya mahasiswa saya rasa adalah sesuatu yang bermodal untuk mendapatkan apa yang namanya cinta. Karena cinta dikalangan mahasiswa tidak seperti cinta di kalangan anak SMP/SMA ataupun anak sekolahan tingkat rendah. Karakter mahasiswa yang beragam dan memiliki banyak latar belakang. Dan mahasiswa serta cinta merupakan suatu paket ketika kita terjun di dunia mahasiswa. maka jangan sia-siakan kehidupan yang seharusnya indah saat mahasiswa. Karena kata orang hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1
Mahasiswa dan Buku
Oleh: Luxy Nabela Farez*
            Terkait hal yang bersangkutan dengan mahasiswa dan buku. Kita perlu mengetahui apa itu mahasiswa dan apa itu buku dengan fungsi setiap definisi masing-masingnya.
            Perlu kita ketahui bahwa mahasiswa bukan lagi sekedar siswa yang hanya mampu untuk diatur secara otoriter oleh diktator (guru). Mahasiswa bukan lagi sekedar siswa yang hanya bisa dicekoki doktrin-doktrin pembodohan oleh oknum-oknum yang bertanggung jawab. Dalam artian, seorang mahasiswa adalah sosok yang harus dan wajib mengerti dirinya sendiri dan ranah gerak apa yang harusnya di ejawantahkan oleh diri mahasiswa itu sendiri.
            Terkait dengan adanya mahasiswa, ada satu hal yang selayaknya tidak diperbolehkan lepas dari ranah ataupun sepak terjang seorang mahasiswa hal itu adalah buku. Keberadaan buku dinilai sebagai satu peran penting bahkan menjadi hal pokok dalam konsumsi mahasiswa.
            Dapat dikatakan penting dan pokok dalam perannya sebagai buku, karena buku adalah sumber pembuka ilmu pengetahuan atau cakrawala pengetahuan dan jendela dunia. Dalam memaknai suatu hal dan menjabarkan suatu hal terkait dengan teori-teori yang telah ada, buku memiliki peran yang sangat besar di dalamnya.
            Selain menjadi sumber ilmu pengetahuan, bukupun menjadi sumber referensi berkualitas bagi seorang mahasiswa. terkait dengan adanya mahasiswa dan buku, dapat ditarik kesimpulan secara garis besar bahwa kedua saling terkait erat dan menguntungkan masing-masing unsur atau dapat dikatakan saling bersimbiosis mutualisme.
            Akan tetapi, realitas yang ada saat ini, mahasiswa dan buku mengalami degradasi yang sangat tajam. Terkait halnya dengan sebuah budaya mulia didalamnya yaitu “membaca”. Mahasiswa, buku dan budaya membaca adalah faktor yang saling berhubungan. Tanpa adanya kemauan ataupun paksaan membaca, buku takkan terjamah oleh tangan-tangan mahasiswa itu sendiri yang empunya buku.
            Perlu ditekankan bahwa dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan cendekiawan yang berpengatuhan luas, perlu adanya keluasan cakrawala pengetahuan. Dan keluasan cakrawala pengetahuan dapat dicapai dengan adanya budaya membaca untuk lebih menunjang dalam perluasan pengetahuan khususnya oleh mahasiswa.
            “Banyak baca, dunia pun berada di tangan kita”. Kalimat tersebut perlu dihayati dengan baik, karena budaya membaca kini semakin tergerus oleh kerasnya zaman globalisasi seperti sekarang ini, yang semakin hari semakin menggantungkan diri dengan teknologi dan gadget.
            Perlu diketahui pula segala sesuatu didunia ini memiliki dampak positif dan negatif masing-masing. Untuk mengendalikan dampak-dampak yang ada, dapat dikembalikan kepada diri masing-masing mahasiswa, demi mencetak generasi muda yang memiliki intelektualitas yang berkualitas dan cendekiawan dengan adanya buku dan budaya membaca yang baik, maka dunia akan dapat kita genggam. Mari membaca!
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1


Mahasiswa dan Makanan
Oleh: Dewi Puspita JS*
            Hubungan antara mahasiswa dengan makanan itu cukup erat. Mengapa? Karena mahasiswa itu manusia, dan manusia itu membutuhkan makanan. Bukti nyata bahwa mahasiswa membutuhkan makanan adalah dengan adanya kantin yang ikut meramaikan sudut-sudut kampus.
            Yang disebut sebagai mahasiswa disini adalah semua orang yang menuntut ilmu dijenjang perkuliahan. Mahasiswa ada dua macam, yaitu mahasiswa yang dalam perantauan dan mahasiswa yang rumahnya masih disekitar atau masih dekat dengan kampus. Bagi keduanya, makanan itu adalah hal yang penting. Terutama bagi mahasiswa yang bertempat tinggal di kos atau kontrakan. Pencarian makanan adalah hal yang harus sangat dipertimbangkan. Dari segi harga, biasanya itu yang dijadikan pokok pertimbangan yang pertama. Karena mereka memiliki alasan, yaitu HEMAT! Kata itu saya rasa cukup melekat erat bagi mahasiswa perantauan. Tapi masih ada juga beberapa mahasiswa yang acuh pada harga makanan.
            Yang kedua yaitu dari segi rasa. Ada yang berpendapat bahwa makanan di sekitar kampus atau kos/kontrakan itu tidak enak. Jadi bagi mahasiswa yang lebih mengutamakan harga, rasa dari sebuah masakan atau makanan itu dijadikan acuan yang kedua.
            Selain cita rasa tentunya ada pertimbangan yang lainnya yang harus dipertimbangkan. Yaitu kualitas atau kehigienisan makanan dari makanan tersebut. Kerena makanan yang bersih akan berdampak positif.
            Bagi anak kos itu yang terpenting dalam menentukan makanan, rumusnya adalah harga murah, porsi banyak, rasa enak dan higienis. Itu yang diharapkan makanan dari anak kos. Ini terjadi karena tuntutan keadaan. Salah satunya karena mungkin jadwal pengiriman uang dari orang tua terbatas dan terlambat. Demikian.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1

Mahasiswa dan Perpustakaan
Oleh: Bintoro Arif B
            Zaman sekarang sudah berubah ke zaman globalisasi. Semuanya terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang sangat drastis. Contohnya yaitu mahasiswa-mahasiswa di era sekarang telah dipengaruhi oleh perubahan yang menjadikan mahasiswa-mahasiswa sekarang yang kurang berkompeten. Banyak mahasiswa sekarang yang hanya kuliah, pulang, nongkrong, main dan lain-lain, yang itu semua bagiku kurang ada bermanfaat.
Dan ada juga pula mahasiswa sekarang kurang ingin untuk melakukan yang namanya minat baca, padahal minat membaca itu sangat penting untuk menambah wawasan pengetahuan seorang mahasiswa. Supaya mahasiswa mempunyai ilmu yang berkualitas dan wawasan yang luas. Semua universitas telah menyediakan fasilitas untuk membaca yaitu perpustakaan, maka dari itu pergunakanlah fasilitas yang sudah disediakan itu dengan sebaik-baiknya. Karena kualitas seseorang membaca dan orang yang tidak suka membaca itu sangat berbeda jauh.
            Di perpustakaan juga sudah disediakan buku-buku yang berkualitas. Ingin mencari buku yang berpengarang terkenal-sampai yang belum terkenal sebagian sudah tersedia. Jadi kalau mahasiswa ingin mencari buku yang diinginkan tidak harus repot-repot membeli ke toko buku. Mahasiswa harus diajarkan hidup hemat. Dan juga kita sebagai mahasiswa harus membudayakan kebiasaan membaca buku. Semoga dengan sering kita datang ke perpustakaan dan sering membaca buku maka kita akan mendapatkan apa yang ingin dicari.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1


Mahasiswa dan Futsal
Oleh: Ridwan Yoimanto*
            Mahasiswa adalah seorang individu yang mempunyai pola pikir yang sudah atau telah dewasa, baik secara formal maupun non-formal. Mahasiswa yang diambil dari kata maha dan siswa, memiliki arti maha yaitu seuatu yang besar dan siswa yaitu seorang pelajar, jadi mahasiswa adalah seorang pelajar yang mempunyai jiwa besar.
            Futsal adalah salah satu olahraga terfavorit dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak orang yang suka atau sering pada olahraga ini. Mulai dari anak kecil, orang dewasa, anak sekolahan maupun mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa belakangan saat ini mahasiswa yang senang pada olahraga futsal ini semakin hari semakin bertambah banyak. Mengingat tempatnya yang kebanyakan indoor atau berada dalam ruangan, futsal bisa menjadi salah satu olahraga pilihan yang baik ketika cuaca sedang tidak bersahabat atau sedang hujan.
            Namun dalam masalah ini, ada beberapa hal yang membuat olahraga futsal menjadi hal yang mengganggu mahasiswa yaitu
·         Banyak mahasiswa yang lebih senang meninggalkan atau menunda tugasnya demi futsal
·         Lebih memilih bermain futsal pada malam hari dengan alasan agar tidak merasa gerah atau kepanasan saat bermain futsal pada siang atau sore hari
Dari dua buah contoh diatas saja dapat dilihat bahwa mahasiswa mengambil suatu resiko yang menurut saya sangat besar dampaknya, dalam waktu yang dekat atau lama.
Kita lihat yang nomor satu, kebaanyakan mahasiswa yang lebih mementingkan futsal ketimbang tugas-tugasnya atau bahkan mata kuliahnya, dan menurut saya akibatnya cukup lumayan, mulai dari tidak dapat nilai dari tugasnya yang tidak dikumpul, atau mendapat nilai yang kurang karena terlambat mengumpulkan tugas.
Bukannya bermain futsal itu dilarang, tetapi harus bisa membagi waktunya dengan baik. Utamakan yang lebih penting dahulu, atau kerjakan terlebih dahulu tugas, ikuti terlebih dahulu mata kuliah, setelah itu baru bisa bermain futsal. Sehingga ketika kita pulang dari bermain futsal, pasti kita merasakan kecapekan yang akhirnya membuat kita kita malas untuk mengerjakan sesuatu. Karena pada awal tadi kita telah mengerjakan atau mengumpulkan tugas, jadi kita bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus memikirkan tugas yang belum terkumpulkan atau yang belum dikerjakan.
Jadi sebagai mahasiswa harus bisa membagi waktu antara urusan-urusan perkuliahan dan waktu bermain futsal, sehingga akhirnya tidak ada yang dirugikan pada akhirnya nanti.
*Penulis adalah mahasiswa Teknik Informatika UMS
Semester 1 

Mahasiswa dan Mata Kuliah
Oleh: Khoirul Hudoh*
            Sudah kita ketahui bahwa mahasiswa tak luput dengan pembahasan mata kuliah. Mahasiswa sebagai orang yang terpelajar, yang mempunyai gagasan-gagasan ataupun pemikiran-pemikiran yang logis terhadap suatu persoalan. Kehidupan mahasiswa di kampus tidak hanya masuk kelas, untuk kuliah mendengarkan dosen yang cerewet, bermain internet diwaktu yang senggang ataupun yang lainnya. Akan tetapi mereka pasti mempunyai tujuan tertentu setiap individu masing-masing.
            Sedangkan pada konteks kali ini, pembahasannya ialah mengenai mahasiswa dan mata kuliah. Pasti tak asing lagi buat mahasiswa itu tersendiri. Mata kuliah bagi mahasiswa itu pasti mempunyai persepsi sendiri-sendiri setiap individunya dalam memaknainya.
            Dalam kurun waktu yang berbeda mahasiswa akan berbeda dalam menyikapi suatu mata kuliah tertentu. Terkadang pada minggu pertama mata kuliah A mahasiswa suka, karena adanya ketertarikan pada materi yang disampaikan oleh dosen dari mata kuliah tersebut. Dan pada saat minggu kedua bisa-bisa mahasiswa menyikapi maata kuliah A menjadi membosankan, karena penyampaian materi kuliah oleh dosen kurang menarik dan terkesan monoton.
            Dalam hal ini merupakan sebuah perspektif mahasiswa terhadap mata kuliah yang berbeda, karena adanya pengaruh waktu dan kondisi yang menyebabkan faktor terjadinya penyikapan mata kuliah.
            Pada dasarnya mahasiswa bisa menyikapi atau mempunyai pendapat yang berbeda tersebut, karena dipengaruhi oleh pemikiran mereka sendiri. Karena pemikiran merekalah yang akan membuat hati mempunyai rasa yang berbeda terhadap perspektif tentang mata kuliah dalam kurun waktu yag berbeda. Dan sejatinya rasa yang dimilikinya itu sama terhadap pemikiran tentang mata kuliah, tetapi yang menjadikan perbedaan itu hanyalah waktu dan kondisi.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1

Mahasiswa dan Dosen
Oleh: Dwi Latifatul Fajri*
            Dosen dan mahasiswa saling berkaitan dengan mahasiswa. Mahasiswa yang ingin mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi misalnya harus taat pada aturan, sering ngampus dan tentunya memperhatikan dosen ketika sedang mengikuti aktivitas belajar mengajar.
            Seringkali ada rasa ketidakcocokan antara mahasiswa dan dosen. Kebanyakan dosen menginginkan mengajar mahasiswa dengan baik dan mata kuliahnya dapat diserap oleh mahasiswa, namun ada juga dosen yang hanya mengajar tanpa memikirkan mahasiswanya bolos mata kuliah atau tidak mengerti mata kuliahnya sama sekali.
            Jadi, apa sebenarnya hubungan dosen dengan mahasiswa. Dosen adalah guru besar dan biasanya sarjana S2 dan S3. Dosen berbeda dengan guru sekolah sebelum kuliah. Sementara mahasiswa adalah siswa yang paling tinggi tingkatannya setelah lulus SMA/SMK/MAN. Dosen adalah pengampu yang biasanya mengajari mata kuliah di kampus.
            Ada beberapa tipe mahasiswa yang berpengaruh terhadap dosennya. Pertama mahasiswa yang aktif, rajin bertanya dan nilai dari mata kuliahnya bagus sehingga dosen menyukai mahasiswa tersebut dan bisa saja mahasiswa mahasiswa itu menjadi asisten dosen membantu kerja dosen. Kedua tipe mahasiswa yang setengah-setengah, maksudnya dia tidak menonjol di kelas, sering tidur di kelas, bahkan terkadang sering titip absen pada temannya. Namun terkadang dia juga masuk mata kuliah walau dia tidak aktif dalam perkuliahan dan IPK juga sedang. Biasanya dosen acuh tak acuh pada mahasiswa ini, tapi jika dosen killer (pembunuh) kemungkinan si dosen akan membubuhkan nilai buruk pada mahasiswa ini karena sering bolos, nilai ujiannya jelek atau ketahuan mencontek ketika ujian.
            Ketiga tipe mahasiswa yang biasa disukai dosen atau si dosen tidak menyukainya. Biasanya tipe ini anak yang ikut organisasi atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus. Mahasiswa ini bisa dibilang super sibuk atau sok sibuk tergantung perilaku mahasiswa itu sendiri. Tipe mahasiswa ini ada 2, yang pertama dia tipe anak rajin. Walaupun dia harus membagi waktu mengikuti organisasi mahasiswa namun dia berhasil dalam membagi waktu belajar dengan baik sehingga dia berhasil menunjukkan prestasi dalam organisasi yang ia geluti, dan nilai IPKnya juga bagus. Biasanya dosen menyukai mahasiswa ini.
            Tipe kedua dari mahasiswa yang mengikuti organisasi mahasiswa yang beralasan dirinya sok sibuk yaitu mahasiswa ini biasanya beralasan ada tugas atau kerjaan di organisasinya, sehingga dia membolos mata kuliah tertentu. Memang dia memanfaatkan kegiatan organisasi dan membolos tapi dia bahkan tidak aktif dalam berorganisasi dan IPKnya juga tidak memuaskan, karena dirinya tidak mampu membagi waktunya dan menyiakan waktunya. Tipe inilah yang tidak disukai oleh dosen. Karena dosen adalah pembimbing untuk menjadikan mahasiswa yang mampu mengubah bangsa dan negara, maka hubungan dosen dan mahasiswa harus bersinergi satu sama lain.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1

Mahasiswa dan Facial
Oleh: Dewi Zakiniyati*
            Di jaman sekarang yang semakin modern banyak kalangan masyarakat khususnya mahasiswa yang merawat wajahnya dengan perawatan wajah yaitu biasa disebut facial. Mereka menggunakan perawatan itu karena mereka sudah memiliki rasa ingin merawat diri menjadi lebih cantik dan lain-lain. Kebanyakan mahasiswi merawat wajahnya dengan cara facial, ada juga mahasiswi merawat wajahnya secara alami atau memakai sabun cuci muka. Perawatan wajah juga tumbuh dari masing-masing mahasiswi, ada yang bersemangat ke tempat skin care untuk merawat wajahnya, ada juga yang tidak peduli dengan wajahnya dan itu hanya memakai sabun cuci muka atau malah mungkin tidak memakai apapun, hanya cuci muka dibasuh air bersih saja. Tetapi itu semua bisa dilihat dari kulit wajah masing-masing mahasiswa tersebut. Ada yang norrmal, berjerawat, berminyak, sensitif dan lain-lain. Sebagai contoh saya mengambil contoh dari teman-teman saya. Ada teman saya yang merawat wajah dan facial di skin care Ella di Solo. Karena dia pikir dia butuh buat merawat wajahnya agar tidak menimbulkan banyak jerawat. Ada lagi teman saya yang merawat wajah dan facial di Larissa Solo, dia bermasalah pada wajahnya yang sensitif, jadi dia mengambil cara dengan perawatan di Larissa Solo. Ada juga yang merawat wajah dan facial di AA skin care, dia disana hanya facial dan membeli krim siang dan krim malam agar wajah dia terlihat cerah dan indah dipandang mata. Dan ketiga teman saya itu memiliki masalah pada wajah yang berbeda-beda. Tetapi kita kembalikan lagi kepada mereka. Mereka pasti mempunyai alasan lain kenapa mereka memilih facial untuk merawat wajah.
            Facial itu bisa dikatakan pemijatan wajah, karena salah satu stepnya dengan cara memijatkan wajah dan menjadikan wajah kita rileks dan ringan. Setelah itu kita dipakaikan masker sesuai dengan wajah masing-masing. Ditunggu sekitar sepuluhan menit. Lalu diambillah masalah yang ada diwajah itu, ada komedo dihidung yang jika dikeluarkan menggunakan alat dan dipijat itu terasa sakit, mengambil jerawat yang ada diwajahnya juga bisa. Tetapi akhirnya bisa berdarah dikit atau membekas. Jangan khawatir semua akan kembali seperti semula dengan jangka waktu sehari sampai dua hari. Dengan begitu wajah kita terlihat lebih bersih dan cerah. Bisa ditambahkan juga dengan krim siang dan malam. Atau jika ingin terhindar dari jerawat bisa memakai serum dan itu digunakan malam hari bersamaan dengan krim malam hari. Krim malam berfungsi memutihkan wajah dan krim siang berfungsi untuk melindungi wajah dan panasnya sinar matahari. Tetapi itu kembali lagi lihat tempat skin care tersebut, ada banyak skin care yang mempunyai keunggulan tersendiri soal krim siang dan malam sesuai dengan kemauan kita juga bisa, ingin tinggi tingkat keputihannya bisa memakai krim siang yang dosisinya tinggi. Jika tingkat keputihan wajahnya biasa bisa menggunakan krim pagi yang mengandung dosis yang rendah. Dengan adanya facial di skin care ini, menguntungkan mahasiswi yang ingin mendapatkan wajah yang indah dan cerah. Dan menjadikan mahasiswi menjadi cantik. Dan menguntungkan skin care tersebut. Tetapi harapan dari mahasiswi ini dengan maraknya pemakaian facial jangan sampai merugikan konsumen yang berniat membenahi wajahnya. Atau krim pagi dan malam jangan juga menggunakan bahan yang tidak baik untuk kulit wajah. Sekian tulisan saya ini, terimakasih.
*Penulis adalah mahasiswa Teknik Informatika UMS
Semester 1

Mahasiswa dan Organisasi
Oleh: Yuananda Elok*
            Keterkaitan mahasiswa dengan organisasi adalah disetiap fakutlas atau perguruan tinggi pasti mempunyai UKM atau organisasi. Seperti di UMS ini yang mempunyai berbagai organisasi, seperti organisasi IMM yang saat ini sedang saya ikuti. Ada juga UKM diantaranya yaitu Unit Bola Basket (UBB), futsal dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan seperti ini dapat menambah pengalaman, menambah pertemanan dan juga bisa mengikuti kejuaraan-kejuaraan daerah ataupun nasional untuk UKM yang fokus pada minat dan bakat. Organisasi IMM misalnya dapat menambah wawasan, menjadikan pribadi yang mandiri dan berakhlak mulia. Selain IMM juga terdapat organisasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) yang mencakup dengan hubungan dengan tugas kuliah dan mata kuliah. Mahasiswa dan organisasi juga bisa menambah keilmuan kita, dengan adanya organisasi di universitas dapat membantu kita juga dalam menuju dakwah, jalan menuju Allah. Kita bisa bersosial dengan menampung aspirasi mahasiswa dan melakukan bakti sosial.
            Mahasiswa dengan organisasi mereka saling berkaitan. Tanpa adanya oganisasi di kampus, tidak akan mungkin terselenggerakannya kegiatan-kegiatan yang butuh sokongan dari pihak mahasiswa. Tanpa adanya mahasiswa tidak akan mungkin terbentuknya suatu organisasi, yang mana kata sebuah organisasi bisa terwujud jika adanya struktur, AD/ART, anggota dan lain-lain. Namun dengan adanya organisasi berarti tidak harus kita tidak bisa memanagement waktu sebaik mungkin. Bagaimanapun juga mahasiswa harus mendahulukan apa yang wajib serta menjadikannya kebutuhan utama. Ada juga organisasi yang harus memakan waktu sampai larut subuh hanya untuk sebuah rapat, maka dari itu kita harus benar-benar bisa memanagement waktu sebaik mungkin.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS
Semester 1





Nyai Gowok dan Tradisi Seksualitas Jawa


Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
            Dalam tradisi jawa jaman dahulu ada tradisi yang mana seorang lelaki remaja diasuh oleh seorang perempuan dewasa yang bernama Gowok. Gowok adalah seorang perempuan yang bertugas mengajarkan kepada anak laki-laki yang sedang beranjak dewasa tentang katuragan wanita. Tradisi ini disebut Nyantrik. Tugas seorang Gowok selain mengajarkan bagian-bagian tubuh perempuan mana yang jika disentuh akan muncul kenikmatan pada yang disentuhnya, adalah mengajarkan juga tentang bagimana laki-laki menjadi lelananging jagad yang sejati. Jadi dalam berhubungan intim seorang laki-laki juga harus bisa membahagiakan batin seorang perempuan, tidak hanya sekedar kebahagiaan lahir. Dalam berhubungan suami-isteri tidak hanya sekedar bagimana memuaskan nafsu berahi semata. Melainkan setiap kenikmatan dikerjakan secara bersama-sama hingga titik kepuasan yang klimaks. Bukan layaknya singa yang kelaparan mencari mangsa, setelah mendapatkan mangsanya ia tinggal tidur dengan pulasnya. Lantas, bedanya manusia dengan hewan apa? Kalau dalam segi naluri saja sama-sama kebinatangannya.
            Hal ini diceritakan dengan apik oleh Budi Sardjono dalam novelnya yang berjudul Nyai Gowok; Novel Kamasutra dari Jawa (2014). Novel yang berlatar di Temanggung, Jawa Tengah ini mengangkat sosok Bagus Sasongko seorang putra dari Kawedanan Randu Pitu yang bernama Ndoro Dono. Dalam kebiasaan adat Jawa setempat seorang laki-laki remaja yang seusai melaksanakan sunat dan menjalankan prosesi adat Jawa yang lainnya, akan dititipkan oleh seorang Gowok. Dalam cerita ini Nyai Lindri berperan sebagai Gowok tersebut yang bertempat tinggal di Gowangan. Pada saat pertemuannya dengan seorang Gowok tersebut, Bagus Sasongko terpana oleh kecantikannya dengan warna kulit kuning langsatnya. Tinggal beberapa minggu di Gowangan dan sempat berpergian ke Yogyakarta Bagus Sasongko mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dalam hal memperlakukan wanita dengan baik. Terlebih ketika kelak ia mempunyai isteri. Nyai Lindri seorang pengajar yang baik dengan sabar memandu pelajaran tahap demi tahap dengan tekun. Sedangkan Bagus Sasongko yang sedang beranjak dewasa adalah seorang laki-laki yang trengginas terhadap hal-hal yang baru.
            Pelajaran pertama dalam tradisi seksualitas Jawa yang diceritakan oleh novel ini adalah bagaimana seorang laki-laki jika menghadapi wanita harus bisa menahan diri. Artinya dapat mengontrol pernapasan dengan baik. Jika tidak mampu menguasai diri biasanya akan segera capek dan tidak tahan lama. Kemudian langkah selanjutnya yang penting untuk diperhatikan adalah jangan grusa-grusu dalam menyentuh bagian tubuh perempuan. Sesungguhnya ada titik-titik tertentu bagian tubuh perempuan jika disentuh dengan mesra perempuan akan tergelepar ibarat ikan, dan ini sering terlupakan oleh laki-laki. Bagian pertama adalah bibir, karena itu wanita suka dicium. Bagian kedua adalah bagian belakang telinga, ia akan senang sekali dicium pada bagian itu. Setelah bagian belakang telinga, wanita juga senang jika disentuh dagunya pelan-pelan.
            Setelah dagu baru leher adalah bagian penting yang keempat yang disukai perempuan. Bagian sensitif yang lain adalah dada. Yang perlu diperhatikan adalah tidak hanya laki-laki yang suka dengan buah dada, melainkan perempuan juga suka. Lihat waktu ibu-ibu menyusui anaknya diwaktu balita, ia merasa senang karena dapat menyusui anaknya dengan baik. Begitupun jika hal tersebut dilakukan oleh laki-laki yang penuh mesranya. Kemudian perut adalah bagian penting yang harus dilakukan oleh laki-laki, karena biasanya laki-laki sering lupa pada bagian ini. Sentuhlah dengan lembut, maka perempuan akan merasa senang karena mengingatkan pada naluri keibuannya yang pernah mengandung.
            Dari perut pelan-pelan turun ke bawah, disinilah bagian yang paling peka dari seorang wanita. Namun ingat, harus memperlakukan dengan halus dan lembut. Pada bagian ini wanita sangat senang jika lelaki mau bermain-main dulu disitu. Bisa dengan jari, bisa dengan bibir dan lidah. Tahapan-tahapan itu jika dilakukan dengan baik secara sistematis dan rapi dari atas, kalau dari bawah bisa dimulai dari punggung kaki kemudian lalu naik ke betis. Karena betis wanita itu menjadi salah satu dari daya tarik tersendiri terutama bagi perempuan yang gemuk. Entah dari mana akan memulai, entah dari atas atau dari bawah tujuannya tetap sama yaitu membuat wanita menjadi nyaman, bisa menikmati dan akhirnya mau melayani suami dengan penuh gairah.
            Pelanjaran selanjutnya dalam tradisi Nyantrik yang oleh novel ini coba dipaparkan adalah bagaimana seorang laki-laki bisa memberi kepuasan bathin kepada pasangan hidupnya. Ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk memuaskan bathin kepada pasangan hidup. Cara ini diambil dari ajaran Hindu Kuno yang berada dalam kitab Rahasya Sanggama. Tiga cara tersebut yaitu angguliprawesa yang artinya lelaki bisa menggunakan jari-jari tangannya untuk memperoleh kenikmatan. Yang kedua yaitu jihprawesa yang artinya lelaki dapat menggunakan lidahnya untuk membuat gairah pasangannya terbakar. Dan ketiga lelaki bisa purusaprawesa, menggunakan alat kelaminnya untuk mengantar pasangannya menuju puncak. Ajaran-ajaran inilah bagaimana caranya memulai, memanaskan dan akhirnya mengakhiri dengan penuh kenikmatan.
            Setelah semua pelajaran hal-ihwal katuragan wanita sudah dibeberkan dengan jelas, bahkan dipraktekkan secara langsung oleh Bagus Sasongko. Begitu juga mantra-mantra yang berguna untuk kehidupan suami-isteri nanti. Bahkan jamu dan beberapa ramuan untuk kaum lelakipun sudah di beritahukannya. Sekarang tinggal bagaimana Bagus Sasongko mengolah raga dan jiwanya untuk menghadapi masa depannya sebagai lelananging jagad disaat dunia sudah tidak mampu membendung hawa nafsu seorang laki-laki.
            Pesan terakhir dari novel ini adalah yang disampaikan oleh Nyai Lindri kepada Bagus Sasongko adalah “menjadi seorang lelaki yang bisa disebut lelananging jagad itu kalau dia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Mas, ingat ya!” Pesan Nyai Lindri serius. “Hargailah wanita, jangan sekali-kali memandang bahwa mereka hanya sekedar objek pemuas nafsu. Jangan! Bagaimanapun, mas Bagus lahir dari rahim seorang wanita, bukan lahir dari batu gunung. Lelaki kalau memandang wanita hanya sebagai alat pemuas nafsu, maka lelaki seperti itu sejatinya derajatnya hanya setara dengan hewan. Para pejantan mengawini betina karena naluri. Karena mereka tidak punya pikiran, tidak punya hati dan jiwa. Jadi, soal kawin itu karena semata-mata di dorong oleh kehendak nafsu belaka. Apakah mas Bagus akan meniru hewan-hewan itu?” “Tidak akan, Nyai!” “Maka dari itu jadilah lelananging jagad yang sejati!” Tegasku.

*Penulis adalah pengelola Taman Baca Masyarakat (TBM)
Perisai Pena
Nilasari Pabelan, Kartasura Sukoharjo

Minggu, 14 Desember 2014

Dilema Mahasiswa: Antara Berfikir Kritis Atau Apatis



(Tanggapan Terhadap Saudara Imawati Rofiqoh)
Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
            Pilihan yang sukar yang dua-duanya sama-sama tidak menyenangkan adalah suatu dilema. Begitulah sekiranya hipotesa awal saya saat membaca artikel dari saudara Imawati Rofiqoh, yang berjudul Makelar Intelektual, Antropolog Amatir (Solopos, 18 November 2014). Dilematis penulis dalam menganalisis artikel-artikel sebelumnya yaitu terletak pada terburu-burunya Rofiqoh dalam menjustifikasi penulis-penulis sebelumnya,
            Dan lagi-lagi Rofiqoh sama halnya dengan Mutimatun dan Qibtiyatul yang terjebak dalam struktur berfikir yang tidak hadap masalah. Bisa kita lihat posisi Rofiqoh yang juga sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Soloraya, tidak mampu mengatasi persoalan urusan kendaraan bermotor dan parkiran dengan solusi yang jitu. Sehingga pada akhirnya pihak kampus berfikir ulang untuk menata taman parkir yang sesak dan mengevaluasi total peran dan fungsi kampus sebagai institusi pendidikan.
            Justru kita ketahui tulisan Rofiqoh lari dari persoalan itu dengan mengusulkan ada hal lain yang lebih urgent untuk dibahas yaitu tentang mata kuliah, ijazah dan imajinasi pekerjaan. Ya, memang itu juga sangat penting untuk dikaji. Tetapi jika persoalan yang satu belum selesai dibahas dan belum menemukan solusi yang tepat. Kemudian loncat-loncat dengan beda topik pembahasan dan menjustifikasi beberapa pihak. Apakah pantas penulis disebut mahasiswa yang berfikir kritis? Bagiku tidak, melainkan mahasiswa berfikir apatis mungkin tepat untuk beliau dalam pergumulan gagasan ini.
            Kemudian dilematisasi Rofiqoh dalam pergumulan gagasan ini terletak pada proses berfikir penulis yang kurang matang. Sebelumnya, jangan membicarakan terlebih dahulu ketepatan paradigma jika proses berfikir yang dilakukan belum memenuhi tahapan-tahapan yang sesuai secara kaidah ilmiah. Apalagi jika ingin masuk ke dalam tataran berfikir kritis. Sekali lagi hal ini dapat kita lihat dalam tulisannya yang dilematis, bagaimana ia sulit membenturkan teori yang ia pelajari dengan realitas kampus yang ia alami. Terbukti dengan kegundahan beliau saat berhadapan dengan realitas kampus; mahasiswa dan dosen tidak sesuai dengan harapannya.
            Proses berfikir yang diawali dengan pergumulan teks dengan konteks, teori dengan praxis maka akan timbul suatu kesadaran berfikir yang dialektis. Kesadaran berfikir dialektis adalah modal awal dalam membangun proses kesadaran yang kritis. Pemikiran dialektis menekankan pada kehidupan nyata yang saling bernegasi, berkontradiksi dan bermediasi. Jika Rofiqoh mampu berdialektika sedikit saja dalam berfikir tentang pertarungan gagasan ini, tanpa harus menyimpulkan secepat mungkin. Niscaya beliau akan mampu berfikir kritis melampaui penulis-penulis sebelumnya; Muthimatun dan Qibtiyatul. Sayangnya, beliau tidak melalui tahapan-tahapan berfikir dialektis. Sehingga yang tertulis di artikelnya adalah keprematuran itu sendiri.
Berfikir Dialektis
            Disini saya tidak akan menerangkan pemikiran materialisme historisnya Hegel, materialisme dialektikanya Karl Marx atau materialisme, dialektika dan logikanya Tan Malaka. Melainkan akan saya sederhanakan pemikiran-pemikiran para tokoh perubahan sosial dunia itu melalui tahapan-tahapan yang mudah dicerna oleh Rofiqoh. Supaya beliau dapat berfikir dialektis dan pada akhirnya mampu berfikir kritis bukan justru apatis.
            Sindhunata (1982) menuturkan bahwa berfikir dialektis itu yang harus dilakukan adalah Pertama, berfikir secara dialektika berarti berfikir dalam totalitas. Totalitas ini bukan berarti semata-mata keseluruhan, dimana unsur-unsurnya yang bertentangan berdiri sejajar. Tapi totalitas itu berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (memperantari dan diperantarai)
            Kedua, seluruh proses dialektis itu sebenarnya merupakan “realitas yang sedang bekerja” (working reality). Disini akan menjadi jelas bahwa proses dialektis yang meliputi kontradiksi, negasi dan mediasi itu bukan semata-mata abstrak, melainkan terjadi dalam realitas.
            Ketiga, berfikir dialektis berarti berfikir dalam perspektif empiris-historis. Disini perlu dibedakan antara kontradiksi dialektis dan kontradiksi logis. Menurut logika tradisional dua proposisi (tesis dan antitesis) tidak pernah benar kedua-duanya. Menurut pemikiran dialektis, anggapan tersebut sangat tidak memadai dengan kenyataan empiris-historis.
            Keempat, berfikir dialektis berarti berfikir dalam kerangka kesatuan teori dan praksis. Sering terjadi kesalahpahaman bahwa persoalan kesatuan teori dan praksis dianggap sebagai persoalan bagaimana suatu teori itu applicable (dapat diaplikasikan atau diterapkan) untuk suatu kehidupan praktis.
            Demikian yang harus diperhatikan jika kita ingin mampu berfikir dialektis. Karena sesungguhnya Paulo Freire dalam merumuskan pendidikan hadap masalah atau Gustavo Guiterrez dalam memformulasikan teologi pembebasan kristiani, tidak akan menimbulkan kesadaran kritis bagi insan perubahan, kalau tidak menggunakan konsep dialektis ini.
            Dan saya pikir ketika Rofiqoh mampu berfikir dialektis maka dia akan mampu memberikan rumusan masalah yang mendasar, menyeluruh dan spekulatif. Jika dia berfikir tentang persoalan kendaraan bermotor dan parkiran yang penuh dan sesak, maka ia akan mempertanyakan relasi kuasa dan pengetahuan itu, apakah dapat menunjang realitas yang bekerja untuk perkembangan intelektualitas unsur-unsur yang berada didalam sistem tersebut.
            Mendasar disini artinya berfikir pada realitas yang bekerja haruslah mampu diterjemahkan secara mengakar dan mendalam, kemudian disimpulkan akar persoalannya untuk diselesaikan. Menyeluruh artinya berfikir pada realitas yang bekerja mampu dijabarkan apa dampak-dampaknya yang dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan. Dan spekulatif adalah proses berfikir terhadap realitas yang bekerja, kesimpulan sementara apa yang dapat untuk segera diselesaikan.
Berfikir Kritis
            Saat tulisan saya yang berjudul Membongkar Nalar Kritis Mahasiswa (Solopos, 4 November 2014), yang mana dalam tulisan itu saya memberikan usulan dalam menyelesaikan persoalan parkiran. Secara langsung dikampus saya terjadi perubahan dalam parkiran yaitu semakin diperlebarnya parkiran khusus mahasiswa. Walau itu tidak sesuai dengan usulan yang saya harapkan.
Jika kita berfikir kritis maka kita akan berfikir ulang dan mempertanyakan kenapa yang harus diperlebar parkirannya? Apakah hal yang semacam itu akan menyelesaikan persoalan secara keseluruhan, terlebih tahun penerimaan mahasiswa baru akan segera dibuka. Implikasi logisnya adalah mahasiswa baru hadir maka kendaraan bermotor akan semakin bertambah.
            Penulis jangan hanya hidup di menara gading. Penulis juga harus mampu bergumul dengan realitas sosial yang berada di sekitarnya. Benar, penulis bukanlah pengkhotbah atau penceramah yang mengakhiri ceramah dengan nasihat-nasihat bagi umatnya. Pertanyaan reflektifnya apakah Rofiqoh adalah penulis yang hidup dengan persoalan parkiran; mengobrol dengan bapak-bapak tukang parkir kampus yang curhat tentang upahnya di bawah standar UMR, membantu bapak-bapak tukang parkir merapikan kendaraan bermotor ? Tentu bukan saya yang menjawabnya. Mungkin begitu.
*Penulis adalah mahasiswa FKIP PKn UMS
Dan Pengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) Perisai Pena,
Nilasari Pabelan, Kartasura
Sukoharjo

Membongkar Nalar Kritis Mahasiswa



Oleh: Adhitya Yoga Pratama*
Menarik untuk ditanggapi opini mimbar mahasiswa Solopos edisi Selasa (14/10/2014) dan edisi Selasa (28/10/2014), yang melibatkan penulis saudara Muthimatun Nadhifah dan saudara Qibtiyatul Maisaroh. Karena perdebatan diskursus kritisisme mahasiswa terhadap persoalan yang dihadapi sangat dinamis. Tak ayal jika dialektika yang berbentuk diskusi tak puas dalam memberikan solusi, maka dialektika teks menjadi salah satu bentuk alternatif yang mampu memberikan jawaban.
Dialektika teks yang tertuang dalam lembaran kertas dan penuh kata-kata sangat mungkin pula untuk dikritisi dengan lembaran teks yang lain dengan melibatkan nalar penulis. Oleh sebab itu jangan kaget jika R. Barthes menulis Kematian Sang Pengarang (2005), yang mengatakan bahwa menulis adalah penghancuran setiap suara, setiap asal-usul. Setelah penulis menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, kemudian di transformasikan pada ruang publik, sah untuk gagasannya tersebut di kritisi. Yang pada akhirnya saya bermaksud menulis gagasan ini.
Membaca kembali artikel yang ditulis oleh saudara Nadhifah yang berjudul Mahasiswa, Motor, Mobil dan Intelektualitas. Maka kita akan melihat pencarian basis yang tidak kokoh dalam melihat persoalan kendaraan bermotor dan urusan parkir di kampus. Terutama dalam persoalan epistemologi. Proses berfikir dalam tulisan yang bersifat intelektualisme klasik sangat menonjol dalam analisanya terhadap permasalahan. Intelektualisme klasik yang bertitik tolak pada pengambilan kehebatan akal, intuisi intelektual dan keunggulan pengetahuan teoritis sangat kentara. (Hans Albert, 2014)
Bisa kita lihat dalam argumentasinya yang mengusahakan mahasiswa dalam berkendara untuk menengok kembali perbuatan Soe Hok Gie dan Hernowo. Serta bagaimana pengkhawatiran nasib intelektualitas mahasiswa diantara kebisingan motor dan mobil yang berdesak-desakkan. Bahkan teori yang ia kemukakan pun sarat dengan humanistis-empatis, empiris atau penuh pengalaman sebagai mahasiswa yang sangat peduli dengan ilmu pengetahuan. Jadi terkesan mahasiswa yang berkendara didiskriminatifkan tak berintelektual. Saya merasa bangunan berfikir yang dituangkan dalam tulisan tersebut penuh kenaifan belaka.
Pertanyaan reflektifnya, apakah saudara Nadhifah dalam meretas jalan ilmu pengetahuan layaknya Gie yang sering berjalan kaki menuju kampus UI? Saya pikir tidak, melalui penalarannya saja kita bisa membaca bahwa beliau sepakat jika alat transportasi seperti mobil dan motor barangkali memang menjadi hal yang utama bagi mahasiswa masa kini daripada pemenuhan gizi otak. Dugaan saya saudara Nadhifah menuju kampus atau toko-toko buku loakan menggunakan sepeda motor dengan penuh wajah kenaifan.
Kemudian seberapa terpengaruhnya kepemilikan kendaraan terhadap proses peretasan jalan ilmu pengetahuan? Saya rasa beliau juga sudah menjawab dengan mengenang Hernowo melalui kenangan Haidar Bagir, yang memiliki motor dan gaya hidup yang langka pada zaman itu tak membuat dia berjarak untuk aktif di masjid Salman ITB: menapaki waktu di jalan-jalan ilmu pengetahuan, buku-buku dan pemikiran keagamaan. Lantas, apa yang menjadi pertanyaan mendasar jika jawabannya sudah terjawab sendiri oleh penulis. Saya menduga saudara Nadhifah terjebak dalam nalar berfikir yang positivistik.
Sedangkan jika kita menelaah kembali tulisan karya Qibtiyatul Maisaroh yang berjudul Mobil dan Nalar yang Tergelincir. Maka kita akan disuguhkan pada perasaan belas-kasihan pengalaman pribadi penulis yang naturalistik-moralis. Proses berfikir yang ia tuangkan dalam bentuk gagasan tersebut pada kenyataanya gagal dalam perbenturan realita. Kemagisan dalam bentuk kesadaran sosial pun rasanya tepat untuk beliau, terlebih jika kita membaca permohonan seorang mahasiswa terhadap dosennya untuk lebih giat lagi dalam memproduksi ilmu pengetahuan (karya literer). Dan permintaan seorang mahasiswa terhadap dosennya untuk menumpang di mobilnya, seperti yang ia kisahkan pada sosok Koentjaraningrat dan mahasiswanya.
Sungguh, persoalan berfikir menyebabkan kecerobohan mahasiswa dalam mengkritisi permasalahan. Yang pada akhirnya persoalan yang menjadi titik tekannya tak tersentuh sama sekali. Jika saudara Nadhifah terjebak metode penyelesaian masalah dengan mengacu pada intelektualisme klasik, yang berorientasi pada dogmatisme intelektual. Maka saudara Maisaroh menanggapi dengan masih terkungkung dalam model rasionalitas yang empirisme klasik, yang mana dalam proses penalarannya lebih menekankan keunggulan observasi, persepsi indera dan keunggulan fakta yang berorientasi dogmatisme empiris. Maka yang terjadi adalah kedua penulis tersebut belum mampu bernalar kritis strukturalis yang hadap masalah.
Rekonstruksi Nalar Kritis
            Menengok Soe Hok Gie, maka kita akan menengok kembali perselisihan antara Gie dan Ong Hok Ham yang berbeda prinsip justifikasi. Jika Gie menyebut Ong sebagai orang yang tradisionalis, maka Ong menyebut Gie sebagai orang moralis yang mempunyai agama baru: logika (Gie, 1964). Pertarungan ide kedua tokoh yang mempertaruhkan prinsip justifikasi ini adalah salah satu bentuk pengujian nalar kritis yang patut kita tiru.
Dalam bukunya Hans Albert yang berjudul Rekonstruksi Nalar Kritis (2014) dijelaskan bahwa sebuah argumen deduktif yang valid, suatu inferensi logis adalah suatu rangkaian statemen, premis dan kesimpulan, yang diatara ketiganya terjalin hubungan logis tertentu, dimana kesimpulan bisa dideduksikan dari premis dengan bantuan aturan-aturan logis. “Premis” dan “kesimpulan” dipahami sebagai konsep deduktif relatif. Ia mengacu kepada peran logis statemen-statemen dalam suatu konteks inferensial partikular, bukan kepada statemen-statemen per se.
Korelasi kendaraan bermotor, urusan parkir dan posisi-peranan mahasiswa tak bisa dilepaskan dengan analisa ilmiah yang ditekuni mahasiswa dalam proses pergumulan ilmu. Jika banyaknya kendaraan bermotor di dalam parkiran kampus, menyebabkan penatnya aktivitas ilmiah. Maka yang perlu dipertanyakan bukan se per se yang harus ditelisik lebih dalam, melainkan bagaimana kita dapat masuk dalam relasi kuasa pendidikan yang mengatur otoritas kesadaran kita.
Sementara proses kesadaran terbentuk bukan hanya melalui teks yang kaku, melainkan bagaimana teks dapat bergumul dengan realita sosial yang ada dengan relasi kuasa yang membentuknya. Pertanyaan reflektifnya, apakah pengetahuan yang mempengaruhi relasi kuasa? atau relasi kuasa yang mempengaruhi pengetahuan? Jika kedua penulis mampu menjawab pertanyaan reflektif ini. Maka premis dan kesimpulan yang diusulkan bukan hanya pada tataran kesadaran magis atau naif, melainkan melampaui pada kesadaran kritis.
            Persoalan kampus IAIN Surakarta tidak ada bedanya dengan UMS yang menghadapi pembludakan motor diparkiran. Tetapi pada suatu saat ada sekelompok mahasiswa yang menemui saya untuk memperbincangkan persoalan parkiran kampus yang sesak. Diakhir perbincangan, kita sepakat untuk beraudiensi dengan pihak rektorat dan mengusulkan pemberian sepeda onthel kepada mahasiswa baru, dengan mengambil sebagian biaya pendidikan mahasiswa baru atau bekerja sama dengan bank yang terdaftar di kampus seperti yang sudah dilakukan oleh UGM. Setelah itu kita akan membentuk komunitas bike to campus guna mewadahi mahasiswa yang mengendarai sepeda ke kampus, dan memperkecil ruang parkir yang semakin sempit oleh sepeda motor. Dan yang paling utama adalah memperlebar lahan penghijauan kampus dengan ide-ide kreatif mahasiswa ini. Saya pikir nalar kritis yang dibangun oleh mahasiswa yang peduli terhadap masalah parkiran ini, sudah memasuki ranah pengetahuan dan komitmen yang rasional untuk perbaikan kampus yang kondusif bagi peretas ilmu pengetahuan. Mungkin begitu.
*Penulis adalah mahasiswa UMS
Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan
Dan bergiat aktif di Grup Diskusi Griya Pena (GDGP) Pabelan